"Menetap di cekungan Bandung yang menjadi titik pertemuan empat sungai besar sudah biasa melahirkan was-was bagi warga Desa/Kecamatan Dayeuhkolot, Kab. Bandung. Setiap tahun, kala musim hujan, banjir datang. Merendam jalan hingga masuk ke dalam kamar. "

KAB. BANDUNG -- Menetap di cekungan Bandung yang menjadi titik pertemuan empat sungai besar sudah biasa melahirkan was-was bagi warga Desa/Kecamatan Dayeuhkolot, Kab. Bandung. Setiap tahun, kala musim hujan, banjir datang. Merendam jalan hingga masuk ke dalam kamar. 

Sejak 1986, Dayeuhkolot sudah menjadi langganan banjir dari luapan Sungai Citarum, Citepus, Cikapundung, dan Sungai Cisangkuy. Tahun demi tahun ketinggian air bah terus bertambah. Lima tahun terakhir ketinggian banjir di Dayeuhkolot mencapai 0,5 meter…2 meter…bahkan 3 meter.
 
Bagi warga Dayeuhkolot, banjir rutin adalah cerita yang terus berulang. Suhendar salah seorang warga mengatakan setiap tahun keluarganya kala bah itu datang dipastikan pergi mengungsi. “Bapak biasa tinggal jaga di rumah, istri sama menantu dan cucu pergi ke kecamatan mengungsi. Sudah biasa lihat air masuk sampai kolong ranjang,” kata Hendar.
 
Lelaki yang sehari-hari menjadi petugas satuan pengamanan ini mengaku kejadian terakhir mengungsi saat April 2019 lalu. Menurutnya, sampai seminggu keluarganya harus mengungsi, bah merangsek lebih tinggi dari biasanya. “Biasanya cep, cuma sampai kolong ranjang, waktu itu mah banjir jadi naik ke ranjang,” tutur dia.
 
Banjir April 2019 itu memang besar. Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung melansir ribuan jiwa mengungsi di 8 kecamatan, terparah di kecamatan Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot.
 
Data mencatat total yang terdampak 14.029 kepala keluarga atau 37.731 jiwa. Sementara jumlah pengungsi Kecamatan Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot yaitu 655 KK, 1.747 jiwa, 237 lansia, 94 balita, 3 bumil, 57 batita, 11 ibu menyusui dan 4 disabilitas. “Parah cep, besar pisan waktu itu,” kata Hendar.
 
Cerita banjir kemudian hadir lagi 17-18 Desember 2019 lalu.
 
Umar Said, warga Desa Dayeuhkolot bertutur hujan besar di hulu membuat sungai kembali meluap. Banjir lagi, tapi ada yang berubah.  “Kemarin banjir sepinggang. Tapi, besoknya sudah surut. Itu termasuknya cepat. Rata-rata di sini mah banjir bisa berhari-hari. Waktu itu pernah seminggu,” ucap Umar.
 
Warga menurutnya heran dengan cepatnya banjir surut. Membuat waktu tidak tersita banyak untuk membersihkan bekas lumpur atau mengungsi. “Saya dengar-dengar ada terowongan yang bisa mengalirkan air Sungai Citarum lebih cepat. Saya mah bersyukur. Mun (kalau) banjir cepat surut, saya juga bisa jualan (mie bakso) terus,” tambahnya.
 
Banjir saat itu, tercatat ada 1200 rumah terendam banjir namun hanya 124 warga Dayeuhkolot yang mengungsi. “Siapa sok yang mau kebanjiran? Enggak ada. Makanya, saya mah ingin pemerintah ngabangun (membangun) infrastruktur meh (biar) Dayeuhkolot bebas banjir. Banjir surut cepat oge warga sudah bahagia, komo (apalagi) eweuh (tidak ada) banjir deui (lagi),” kata Umar. 

 
Setelah Terowongan Nanjung Aktif

Yayan Setiana mungkin menjadi kepala desa paling repot di Kabupaten Bandung. Hampir setiap tahun, pihaknya berjibaku dengan kondisi banjir yang rutin merendam permukiman warga Dayeuhkolot. Pun tak ada hujan besar di kawasan tersebut, banjir bisa dikirim dari derasnya hujan di kawasan hulu.
 
“Meski di (kawasan) kami tidak hujan tapi di kalau Majalaya, Kota Bandung, dan Pangalengan hujan, dua sampai tiga jam kemudian Dayeuhkolot pasti banjir,” kata Kepala Desa Dayeuhkolot Yayan Setiana saat ditemui tim Humas Jabar belum lama ini.

Pemerintah membangun tanggul kokoh di sepanjang Sungai Citarum dan Danau Retensi Cieuteung namun tidak optimal menampung debit air yang tinggi. Jika curah hujan tinggi, air tetap masuk melalui saluran kecil di sepanjang tanggul. Hasilnya, permukiman penduduk terendam terendam. 

“Sebelumnya banjir di sini surutnya lama, bisa sampai tiga hari atau seminggu. Kenapa bisa lama? Karena tidak ada tempat yang bisa mengalirkan air di permukiman. Warga memang sudah biasa dengan banjir, tapi kami tentu harapannya banjir tidak lagi datang,” ucap Yayan dengan suara berat. 

Baik Yayan dan warga sama-sama berharap pembangunan infrastruktur untuk mengendalikan banjir terus dilakukan Pemerintah Pusat, Pemda Provinsi Jabar, dan Pemerintah Kabupaten Bandung.  Kini, mimpi warga Dayeuhkolot lainnya yang ingin bebas banjir perlahan mulai menjadi kenyataan.
 
Sejumlah infrastruktur yang dibangun Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar, dan Pemerintah Kabupaten Bandung mulai efektif mengendalikan banjir. Terowongan Nanjung di Curug Jompong, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung adalah salah satu instrumen kunci pengendali banjir Bandung Selatan.
 
Terowongan air kembar yang akan diresmikan Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat tersebut, terbukti efektif mengendalikan aliran air di kawasan Dayeuhkolot dan Baleendah pada Desember 2019 lalu hingga Januari 2020 lalu.
 
Yayan bercerita, pada 17 Desember 2019 curah hujan di kawasan Dayeuhkolot mencapai 424 milimeter, menyebabkan banjir merendam rumah warga. Namun setelah Terowongan Nanjung beroperasi, banjir jadi cepat surut. 

“Kemarin di sini banjir. Air sampai masuk sini (kantor Desa Dayeuhkolot). Tapi, banjir menyusut dengan cepat. Tidak sampai sehari. Ketinggian Sungai Citarum cepat turunnya karena Terowongan Nanjung di sana (Curug Jompong) sudah berfungsi,” katanya.

Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan pun menyatakan hal serupa. Menurut dia, genangan air dapat surut dalam hitungan jam. Berangkat dari keberhasilan Terowongan Nanjung dalam mengendalikan banjir, dia optimistis Kab. Bandung, khususnya daerah Bandung Selatan bisa terbebas banjir. 

“Genangan (air biasa surut) antara 2 sampai 3 hari. Setelah dioperasikannya Terowongan Nanjung dan danau retensi itu sangat membantu sekali untuk mempercepat penurunan air di Dayeuhkolot dan Baleendah,” katanya. 

Upaya Tak Berhenti di Nanjung
 
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR), Terowongan Nanjung memiliki panjang 230 meter dan diameter 8 meter. Terowongan mampu meningkatkan kapasitas Citarum dari 570 m3/detik menjadi 669 m3/detik.
 
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan upaya pemerintah Pusat dan provinsi mengendalikan banjir di kawasan Bandung Selatan akan berkelanjutan. Menurutnya Terowongan Nanjung hanya satu dari sekian banyak infrastruktur pengendali banjir yang dibangun.  
 
Menurutnya proyek fisik yang dilakukan PUPR seperti Terowongan Nanjung telah efektif mengatasi banjir di wilayah Bandung Raya, terutama Bandung Selatan."Jadi waktu kejadian banjir di Jabodetabek, di Bandung Raya tidak ada berita (banjir) yang luar biasa. Karena selama ini air yang selalu ngumpul di titik-titik itu berhasil dialirkan dengan cepat karena dioperasikannya dua terowongan di Curug Jompong," katanya.
 
Setelah terowongan kembar itu difungsikan, kini Pemerintah Pusat dan Pemda Provinsi Jabar sedang mengebut pembangunan Floodway Cisangkuy, Banjaran, Kabupaten Bandung.  Jika floodway tersebut sudah berfungsi, kiriman air ke Dayeuhkolot akan semakin berkurang, ditambah dengan rencana pembangunan kolam retensi Andir guna memperkuat kolam retensi Cieunteung.
 
Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil menuturkan anggaran pemerintah akan difokuskan ke pembangunan kolam retensi Andir yang saat ini masih proses lelang dan penuntasan floodway Cisangkuy pada Oktober mendatang. “Yang tadinya Cisangkuy ini memuntahkan air ke Citarum Dayeuhkolot sekarang tinggal lima persen karena Dayeuhkolot tidak dilewati Cisangkuy lagi,” paparnya.

Sebelumnya dalam kunjungannya ke sejumlah proyek pengendali banjir di Kabupaten Bandung, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebut bahwa dengan curah hujan yang tinggi, kini warga Dayeuhkolot dan sekitarnya yang kerap mengungsi maupun bersiap menaiki perahu tidak mengalami kendala itu.
 
Setelah beroperasinya Terowongan Nanjung ditambah parkir air di Kolam Retensi Cieunteung, Basuki berujar genangan air cepat surut sehingga kendaraan masih bisa melaju meski curah hujan cukup tinggi.

"Dengan curah hujan lebih tinggi, biasanya curah hujan 300 mm ini orang sudah naik perahu, 17 Desember kemarin (di Bandung Selatan) sudah 424 mm, orang masih pakai sepeda motor, masih kering," kata Menteri PUPR, Senin (13/1/20).
 
Camat Dayeuhkolot Haris Taufik optimistis Dayeuhkolot bisa terbebas banjir dengan berbagai infrastruktur yang dibangun pemerintah. Meski begitu, dia tetap mengimbau warga Dayeuhkolot untuk tetap waspada.
 
“Terowongan Nanjung sudah terlihat dampak positifnya. Saya yakin Dayeuhkolot bisa bebas banjir, tapi memang masih perlu waktu untuk mewujudkan itu. Walau air sudah mulai cepat surut, warga harus tetap waspada. Curah hujan lebih tinggi diprediksi akan datang pada pertengahan Februari sampai Maret,” kata Haris.

Pembangunan sejumlah infrastruktur pengendali banjir ini merupakan bagian dari penataan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum atau dikenal dengan Program Citarum Harum.  Pemdaprov Jabar berharap kehadiran infrastruktur pengendali banjir ini efektif membebaskan warga dari banjir.
 
Namun kehadirannya akan percuma jika warga masih memelihara buang sampah sembarangan sebagai tradisi buruk yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

“Jadi saya imbau warga, bersama kami pemerintah turut membantu minimal merubah perilakunya tidak membuang sampah sembaranga. Kalau semua ini lancar sekitar 700 hektare wilayah yang rutin banjir menurut teori harusnya bisa bebas atau minimal terkurangi," kata Emil.