"KABBANDUNG-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung meluncurkan gerakan Sabilulungan Tanam Pohon Kesayangan (Satapok), yang berlokasi di lahan Perum Perhutani petak 73, wayang Windu Pangalengan Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari"

KABBANDUNG-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung meluncurkan gerakan Sabilulungan Tanam Pohon Kesayangan (Satapok), yang berlokasi di lahan Perum Perhutani petak 73, wayang Windu  Pangalengan Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari, Sabtu (27/1/2018). Gerakan tersebut dilakukan, selain untuk menyelamatkan kondisi sungai Citarum saat ini, juga sebagai upaya mendukung program Citarum Harum yang diinisiasi Pangdam III/ Siliwangi.

Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, SH,S.Ip.,M.Si mengatakan, Grand Launching Satapok sesungguhnya adalah evaluasi terhadap kegiatan penghijauan masa lalu. Menurutnya, gerakan ini harus memastikan kualitas dan kualitas pohon yang ditanam dapat hidup dan menghasilkan sesuatu. Sehingga selain menjaga ekosistim kehidupan, akan ada dampak manfaat bagi kesejahteraan masyarakat yang merawatnya.

“Hal ini berdampak pula pada optimalisasi konservasi lingkungan kawasan tersebut, yang merupakan lokasi hulu sungai Citarum,” ucapnya.

Bersamaan dengan grand launching gerakan Satapok, Pemkab Bandung juga melakukan soft launching sertifikat pohon. Bupati Bandung menerangkan, sertifikat pohon dimaksudkan untuk memperkuat upaya membangun kesadaran individu dan kolektif. Dengan tujuan, lanjutnya untuk mempercepat pemulihan Kawasan Hulu Sungai Citarum, bersama keterlibatan seluruh komponen masyarakat dari hulul maupun hilir.

“Di kawasan hulu dengan program satapok, ada konsep bahwa pohon yang ditanam wajib hidup, oleh karena itu pohon tersebut harus ada pemiliknya, tapi apabila pemilik pohon tersebut jauh dari lokasi rumah, harus ada pemeliharaan. Sehingga pihaknya pun telah menyiapkan 120 orang dari LMDH untuk menguasai satu petak atau 80 pohon, dan pemilik harus menitip uang sebesar Rp 25 ribu per pohon,” imbuhnya.

Sehingga lanjutnya, konsep leuweng Hejo rakyat Ngejo dengan satapok, sudah diawali. Dengan begitu, untuk penanaman dna pemeliharaanpun masyarakat dapat uang. Dalam waktu enam bulan kata Dia pohon tersebut tumbuh, lalu akan diberikan sertifikat pohon dan diakhir tahun akan ada nilai tunai dan satu tahun pohon akan diganti sebesar 100 ribu dari dana CSR.

"Diawal dapat pemeliharaan, ditengah dapat sertifikat dan diakhir mendapatkan uang, dan sertifikat ini dapat diagunkan untuk pinjaman,”ucapnya.

Yang kedua, Dikawasan hulu Sungai Citarum, ada Situ Cisanti di petak 73, yang nanti menjadi lokasi pencangan oleh Presiden telah di diskusikan dengan Perhutani dan PJT yang akan di perkuat menjadi arboretum. Arboretum merupakan suatu kawasan untuk mengembalikan pungsi vegetasi dengan penanaman kembali dengan tanaman endemik yang sudah hilang.

"Itu akan menjadi rintisan taman hutan raya. Kalau di utara ada tahura, nah di Kabupaten Bandung pun nantukan akan ada tahura Cisanti, mudah-mudahan nanti pada moment presiden rintisan tahuranya bisa di canangkan langsung oleh Presiden, karena mulai hari ini pihaknya sudah tugaskan Kabid Konservasi, konsultasi untuk mengarah ke rencana taman hutan raya," ujar Bupati Bandung.

Menambahkan hal itu, Asisten perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bandung  H. Marlan, S.Ip.,M.Si menjelaskan secara teknis, gerakan Satapok ini adalah gerakan untuk mengajak, memotivasi, memediasi,  memfasilitasi membina dan melaporkan seluruh aktivitas penanaman pohon yang dilaksanakan di wilayah kabupaten Bandung.

“Baik oleh perorangan maupun kelompok, baik pada lahan yang disiapkan maupun pada lahan milik pribadi atau bukan milik pribadi, Satapok ini memiliki prinsip pohon yang ditanam menjadi pohon kesayangan. Sedangkan sertifikatnya merupakan wujud nyata kepedulian seluruh komponen masyarakat dalam menjaga dan memelihara ekosistem yang memberikan penguatan sistem dan akses prinsip hulu menanam hilir peduli,” tambah Marlan.

Mengenai target pencapaian “Citarum Harum” Project, Pangdam Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo mengungkapkan, pihaknya menargetkan enam bulan hingga satu tahun sampah di permukaan Sungai Citarum sudah dapat dibersihkan. Namun lanjutnya, untuk limbah industri butuh 2 tahun untuk membersihkan, dengan catatan instalasi pembuangan limbah sudah dibangun.

“Sedangkan penghijauan di Hulu Sungai Citarum dan mengangkat sedimentasi di dasar Sungai Citarum membutuhkan 5 hingga 10 tahun,” ungkap Pangdam.

Dia menandaskan, bahwa dalam upaya menyelamatkan Sungai Citarum, diperlukan pendekatan hati untuk merubah perilaku masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Citarum.

“Saya selaku Pangdam III/Siliwangi bertugas melindungi ekosistem Sungai Citarum. Dan saat ini ada 20 klaster yang di dalamnya ada berbagai ahli di bidangnya, dan klaster tersebut dikoordinir oleh seorang Kolonel,” ungkapnya.

Selain itu lanjutnya perlu juga dilakukan pendekatan keagamaan, maka tokoh-tokoh agama juga diimbau untuk menguatkan masyarakat yang tinggal di seputar Hulu Sungai Citarum tentang pentingkanya menjaga lingkungan.

“Untuk menangani permasalahan Sungai Citarum juga, kita akan mengeksplorasi kearifan lokal dengan memunculkan kembali tokoh Kabayan Zaman Now. Dengan figur baru Kabayan Zaman Now diharapkan bisa mengajak elemen masyarakat menjaga kebersihan dan ekosistem Sungai Citarum,” ujarnya.

Turut hadir pada kesempatan tersebut, unsur Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Asterdam III Siliwangi Kol.Inf Adri Kusdianto, Pimpinan DPRD Kabupaten Bandung Yayat Hidayat, ST.,MM, Danrem 062/TM, Dandim 0609 Letkol Arh. Andre Wira Kurniawan,S.Ap.,M.Si, Waka Divre Jabar Banten, BUMN/ BUMD,  perusahaan khususnya PT Indonesia power (area Kamojang),  PT Star energy geothermal, PT Pertamina geothermal energy, PT Geo Dipa geothermal energy, dan Bank Jabar Banten cabang Soreang, serta Perum Jasa Tirta II  yang siap untuk 3000 sertifikat pohon. Kemudian dari unsur perguruan tinggi, unsur organisasi atau perorangan pegiat lingkungan dan unsur masyarakat, yang seluruhnya berjumlah 900 orang.