"BANDUNG - Sebanyak 70 ribu pohon ditanam di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, secara simbolis Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menanam sejumlah pohon di Lapangan Upacara Rancamanyar."

BANDUNG - Sebanyak 70 ribu pohon ditanam di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, secara simbolis Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menanam sejumlah pohon di Lapangan Upacara Rancamanyar. Gerakan penanaman pohon tersebut digagas oleh Perkumpulan Pelestari Lingkungan Hidup Dunia (PPLHD).

"Saya melihat partisipasi masyarakat yang luar biasa mulai dari pelajar, anak muda hingga orang tua. Harusnya memang demikian gerakannya dimulai oleh pemerintah hingga swasta, akademisi sampai masyarakat. Jadi harus diapresiasi, kalau tidak bekerja sama akan sulit lah," kata Deddy Mizwar, Kamis (25/1).

Pihaknya berharap gerakan penanaman pohon tersebut bisa terus berkelanjutan karena hal tersebut bisa mencegah kerusakan yang terjadi di sepanjang hulu Sungai Citarum.

"Penanam pohon di akhir tahun 2017 itu 280 miliar rupiah, jadi ada upaya. Tapi dampaknya tidak bisa dirasakan sekarang, minimal lima atau 10 tahun ke depan. Apalagi kalau belum tumbuh sudah dicabut, jadi kesadarannya harus dibangun makanya ada ecovillage dan sampai saat ini ada 277 desa ecovillage," ujarnya.

Selain itu, ia juga bersyukur karena Sungai Citarum telah mendapat perhatian dari Bapak Presiden Jokowi dan pemerintah pusat sehingga diharapkan dalam penanganannya kedepan baik melalui pendekatan struktural maupun non struktural dapat lebih terkoordinir dan memberikan dampak positif yang lebih signifikan terhadap pemulihan daerah aliran sungai.

Menurut Demiz ini modal utama dalam rangka pembangunan berkelanjutan salah satunya adanya sumber daya alam berupa tanah, air dan udara serta sumber daya alam hayati yaitu tumbuhan dan hewan.

Namun, kata dia, ketersediaan sumber daya alam di Jawa Barat mempunyai keterbatasan baik dalam segi kuantitas maupun kualitasnya sehingga upaya pelestarian sumber daya alam secara baik dan bijaksana merupakan sebuah keniscayaan.

"Tekanan jumlah penduduk yang begitu besar dan beragam aktivitas di dalamnya, merupakan salah satu sumber permasalahan lingkungan hidup," kata dia.

Krisis air bersih, pencemaran limbah yang berasal dari aktivitas domestik, pertanian, peternakan dan industri, erosi dan sedimentasi, alih fungsi lahan, banjir, dan penurunan muka air tanah, merupakan beberapa contoh masalah lingkungan hidup yang seringkali terjadi di Jawa Barat.

Ia mengatakan Jawa Barat memiliki potensi sumber daya air permukaan dan air tanah yang cukup banyak. Akan tetapi, kebutuhan air yang cukup tinggi serta kerusakan pada wilayah resapan air, telah berdampak besar terhadap ketersediaan air.

Kebutuhan air untuk domestik, industri, dan irigasi pertanian saja, diperkirakan 17,5 miliar meter kubik per tahun dan ketersediaan air di Jawa Barat pada musim penghujan mencapai 81,4 miliar meter kubik per tahun, tetapi pada musim kering hanya 8,1 miliar meter kubik per tahun, sehingga terjadi ketidakseimbangan alami aliran air.

"Akibatnya potensi terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau, semakin besar," tegasnya.
 
Demiz menambahkan untuk mencapai keseimbangan ekosistem dan hidrologi, Jawa Barat telah menetapkan pencapaian target kawasan lindung 45 persen yang dilaksanakan melalui kegiatan koordinasi antar instansi, rehabilitasi hutan dan lahan, serta penandaan batas kawasan lindung.

Penetapan kawasan lindung secara fisik memerlukan upaya keras namun demikian secara fungsi bisa ditetapkan kawasan lindung di luar kawasan hutan, misalnya di area masyarakat dalam bentuk hutan rakyat, di area dunia usaha dalam bentuk hutan kota, dan di area pendidikan dalam bentuk arboretum. (Pun)